Erupsi Anak Krakatau Kembali Aktif, Aktivitas Vulkanik Jadi Sorotan

Peristiwa20 Views

Erupsi Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah gunung api yang berada di perairan Selat Sunda tersebut menunjukkan peningkatan aktivitas pada 2026. Gunung yang secara administratif berada di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, itu kembali mengalami rangkaian erupsi setelah sempat mengalami jeda cukup panjang sejak akhir 2023.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Anak Krakatau masih memperlihatkan aktivitas vulkanik yang harus dipantau secara ketat. Badan Geologi mempertahankan tingkat aktivitas pada Level III atau Siaga berdasarkan hasil pengamatan visual, kegempaan, perubahan energi vulkanik, serta berbagai instrumen yang ditempatkan di sekitar gunung.

Anak Krakatau memiliki posisi yang sangat khusus karena berdiri di tengah Selat Sunda, kawasan perairan yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra. Aktivitasnya tidak hanya menjadi perhatian ahli vulkanologi, tetapi juga masyarakat pesisir Banten dan Lampung, nelayan, pelaku pelayaran, hingga wisatawan.

Pada awal September 2026, gunung tersebut bahkan mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Aktivitas itu menampilkan karakter erupsi Strombolian dengan lontaran material pijar, abu vulkanik, serta fenomena menyerupai air mancur lava.

Aktivitas Anak Krakatau Meningkat Lagi pada September 2026

Aktivitas Anak Krakatau mengalami perkembangan penting pada awal September 2026. Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, satu episode erupsi menerus berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB.

Durasi sekitar 25 jam tersebut menjadi perhatian karena memperlihatkan bahwa sistem vulkanik Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan energi dari bawah permukaan.

Setelah episode erupsi menerus berakhir, aktivitas belum sepenuhnya berhenti. Tiga erupsi Strombolian masih tercatat setelahnya.

Erupsi Strombolian merupakan jenis aktivitas yang biasanya ditandai dengan lontaran material pijar secara berkala dari kawah. Material dapat berupa fragmen lava, batu pijar, maupun abu vulkanik.

Karakter ini memang sudah beberapa kali ditemukan pada Anak Krakatau sehingga bukan fenomena yang sepenuhnya baru.

Erupsi Menerus Berlangsung Sekitar 25 Jam

Peristiwa pada awal September tersebut berbeda dari letusan singkat yang hanya berlangsung beberapa detik atau menit.

Aktivitas berlangsung terus menerus sehingga pemantauan dilakukan melalui kamera pengawas dan instrumen seismik.

Semburan merah terlihat dari arah gunung ketika kondisi memungkinkan untuk diamati.

Fenomena itu menyerupai lava fountain atau air mancur lava. Material magma terdorong keluar dari kawah dan menghasilkan semburan pijar yang dapat terlihat jelas pada malam hari.

Pada kondisi tertentu, material yang keluar kemudian mengalir mengikuti lereng gunung.

Walaupun terlihat spektakuler dari kejauhan, fenomena tersebut merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang memiliki risiko serius jika seseorang berada terlalu dekat dengan pusat erupsi.

Status Anak Krakatau Tetap Level III atau Siaga

Badan Geologi mempertahankan tingkat aktivitas Anak Krakatau pada Level III atau Siaga setelah melakukan evaluasi hingga 7 September 2026.

Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung masih membutuhkan perhatian tinggi.

Masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun nelayan tidak diperbolehkan melakukan kegiatan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.

Pembatasan ini bukan sekadar berkaitan dengan abu. Lontaran batu pijar dapat bergerak dari kawah dan menjadi ancaman serius bagi siapa saja yang berada terlalu dekat.

Selain itu, potensi aliran lava dan awan panas juga tetap diperhitungkan.

Menurut penulis, disiplin terhadap radius yang telah ditetapkan jauh lebih penting daripada mencoba mendekati Anak Krakatau demi mendapatkan foto atau rekaman erupsi yang terlihat spektakuler.

Radius Tiga Kilometer Harus Dipatuhi

Radius larangan sejauh 3 kilometer berlaku dari pusat aktivitas gunung.

Wisatawan tidak diperbolehkan mendekati kawasan tersebut meskipun kondisi visual terlihat tenang.

Gunung api dapat mengalami perubahan aktivitas dalam waktu relatif cepat. Kondisi permukaan yang terlihat tidak selalu menggambarkan seluruh proses yang berlangsung di bawah tubuh gunung.

Nelayan yang beraktivitas di sekitar Selat Sunda juga perlu memperhatikan posisi kapal terhadap kawasan larangan.

Pelayaran di luar radius yang direkomendasikan tetap harus mengikuti informasi terbaru dari instansi terkait.

Rekaman Gempa Membantu Menilai Aktivitas dari Dalam Gunung

Pengamatan gunung api tidak hanya dilakukan dengan melihat asap atau semburan dari kawah. Pergerakan magma dan fluida di bawah permukaan dapat menghasilkan getaran yang direkam oleh alat seismik.

Selama periode 6 sampai 7 September 2026, tercatat beberapa jenis kegempaan di Anak Krakatau.

Badan Geologi mencatat tiga gempa erupsi, sembilan gempa hembusan, 93 gempa frekuensi rendah, 98 gempa hybrid atau fase banyak, empat tremor menerus, serta satu gempa vulkanik dangkal.

Jumlah tersebut memberikan informasi mengenai proses yang sedang berlangsung di dalam sistem gunung.

Gempa Frekuensi Rendah Berkaitan dengan Pergerakan Fluida

Gempa frekuensi rendah sering mendapat perhatian dalam pengamatan gunung api karena dapat berhubungan dengan pergerakan fluida vulkanik.

Fluida tersebut dapat berupa magma ataupun gas yang bergerak melalui saluran di dalam tubuh gunung.

Gempa hybrid memiliki karakter berbeda dan dapat menunjukkan proses yang melibatkan pergerakan fluida sekaligus rekahan batuan.

Sementara tremor menerus memperlihatkan getaran yang berlangsung dalam periode tertentu.

Data dari berbagai jenis gempa tidak dinilai secara terpisah. Ahli vulkanologi menggabungkannya dengan hasil pengamatan visual, perubahan bentuk tubuh gunung, serta instrumen lainnya.

Energi Vulkanik Sempat Meningkat Sebelum Kembali Turun

Salah satu parameter yang digunakan untuk melihat perubahan energi aktivitas vulkanik adalah RSAM atau Real Time Seismic Amplitude Measurement.

Data tersebut memperlihatkan perubahan rata rata amplitudo aktivitas seismik dalam suatu periode.

Pada Anak Krakatau, energi vulkanik yang tercermin melalui nilai RSAM mengalami peningkatan pada 5 September 2026.

Namun, nilai tersebut kemudian kembali menurun pada 6 September.

Penurunan bukan berarti seluruh aktivitas sudah selesai. Evaluasi tetap diperlukan karena kemungkinan erupsi berikutnya masih dinilai tinggi.

Perubahan Bentuk Tubuh Gunung Ikut Diamati

Selain aktivitas seismik, alat tiltmeter digunakan untuk mengetahui perubahan kemiringan tubuh gunung.

Perubahan kecil dapat membantu ahli melihat apakah terjadi penggembungan atau penyusutan akibat tekanan dari bawah permukaan.

Tiltmeter Stasiun Tanjung sempat menunjukkan kecenderungan inflasi pada awal Agustus 2026.

Inflasi dapat menunjukkan adanya tekanan yang membuat bagian tertentu pada tubuh gunung mengalami perubahan.

Sementara data dari stasiun lain memperlihatkan pola yang relatif stabil.

Kombinasi berbagai data inilah yang digunakan sebagai dasar evaluasi tingkat aktivitas.

Erupsi Anak Krakatau Sudah Kembali Terjadi Sejak Juli 2026

Rangkaian aktivitas pada September bukan kemunculan pertama erupsi Anak Krakatau selama 2026.

Gunung tersebut telah kembali mengalami erupsi pada awal Juli setelah periode tanpa letusan sejak Desember 2023.

Erupsi tercatat pada 2 Juli 2026 pukul 14.05 WIB.

Saat itu kolom abu teramati sekitar 200 meter di atas puncak. Abu terlihat berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat laut.

Erupsi berikutnya terjadi pada 3 Juli pukul 11.50 WIB.

Kolom abu kembali mencapai sekitar 200 meter di atas puncak dengan warna kelabu hingga coklat.

Erupsi Juli Menandai Berakhirnya Jeda Panjang

Sebelum aktivitas tersebut, seri erupsi berskala rendah tercatat terus berlangsung setelah peristiwa 2018 hingga 16 Desember 2023.

Setelah itu terdapat jeda cukup panjang.

Kemunculan kembali erupsi pada Juli 2026 membuat pemantauan diperketat.

Tingkat aktivitas Anak Krakatau kemudian berada pada Level III atau Siaga sejak 2 Juli 2026.

Rangkaian erupsi bertipe Strombolian terus berlangsung hingga memasuki September.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung dapat mengalami fase naik dan turun dalam rentang waktu tertentu.

Anak Krakatau Merupakan Gunung Api yang Relatif Muda

Nama Anak Krakatau berasal dari keberadaannya sebagai gunung yang tumbuh di kawasan bekas kompleks Krakatau.

Gunung ini jauh lebih muda dibandingkan banyak gunung api lain di Indonesia.

Aktivitas yang membangun Anak Krakatau mulai tercatat sejak 1927 ketika tubuh gunung masih berada di bawah permukaan laut.

Sekitar 1929, tubuhnya mulai muncul ke atas permukaan.

Sejak itu berbagai erupsi secara bertahap membangun pulau vulkanik baru di tengah kawasan kaldera Krakatau.

Tubuh Gunung Terbentuk dari Material Erupsi

Pertumbuhan Anak Krakatau merupakan proses vulkanik yang berlangsung berulang kali.

Material yang keluar dari kawah kemudian mengendap dan membangun tubuh gunung.

Lava yang membeku, abu, lapili, dan material vulkanik lain ikut membentuk lereng.

Proses tersebut dapat menambah ukuran gunung, tetapi erupsi atau longsoran besar juga dapat mengubah bentuknya dengan cepat.

Inilah yang terlihat jelas pada peristiwa Desember 2018 ketika sebagian tubuh Anak Krakatau runtuh.

Peristiwa 2018 Mengubah Bentuk Anak Krakatau Secara Besar

Tanggal 22 Desember 2018 menjadi salah satu periode paling penting dalam sejarah modern Anak Krakatau.

Ketika itu, sebagian tubuh gunung mengalami keruntuhan saat aktivitas vulkanik berlangsung.

Longsoran dalam volume besar masuk ke laut dan memicu tsunami yang mencapai kawasan pesisir Selat Sunda.

Wilayah Banten dan Lampung menjadi dua daerah yang mengalami kerusakan parah.

Peristiwa tersebut sekaligus mengubah bentuk Anak Krakatau.

Sebelum kejadian itu, ketinggian gunung tercatat sekitar 338 meter di atas permukaan laut berdasarkan pengukuran pada September 2018.

Keruntuhan kemudian mengurangi sebagian besar tubuh gunung.

Tsunami Tidak Selalu Berasal dari Gempa Tektonik

Peristiwa Selat Sunda 2018 memberikan pelajaran bahwa tsunami tidak selalu diawali gempa tektonik kuat yang dirasakan masyarakat.

Longsoran tubuh gunung api yang masuk ke laut juga dapat memindahkan volume air dalam jumlah besar.

Karena itu, pemantauan Anak Krakatau tidak hanya berkaitan dengan aktivitas kawah.

Perubahan bentuk tubuh gunung, kestabilan lereng, dan karakter erupsi menjadi bagian penting dalam pengawasan.

Namun, masyarakat juga perlu menghindari langsung mengaitkan setiap erupsi Anak Krakatau dengan tsunami.

Tidak setiap letusan otomatis menghasilkan tsunami.

Masyarakat Pesisir Diminta Tidak Mudah Percaya Isu Tsunami

Setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau sering diikuti beredarnya informasi yang belum tentu benar di media sosial.

Foto dan video lama dapat kembali muncul dengan keterangan seolah olah baru terjadi.

Badan Geologi pernah melakukan klarifikasi terhadap video yang beredar pada Juli 2026.

Video tersebut diklaim menunjukkan erupsi Anak Krakatau terbaru dari sebuah kapal.

Setelah diverifikasi, rekaman itu bukan kejadian yang sedang berlangsung saat informasi tersebut tersebar.

Kejadian semacam ini menunjukkan pentingnya memeriksa sumber informasi.

Informasi Resmi Perlu Menjadi Acuan

Masyarakat di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang dan mengikuti arahan dari instansi resmi.

Informasi mengenai tingkat aktivitas gunung berasal dari Badan Geologi dan PVMBG, sedangkan arahan kesiapsiagaan di daerah juga dapat disampaikan BPBD.

Jika terjadi perubahan tingkat aktivitas, radius rekomendasi dapat ikut berubah.

Karena itu, informasi lama sebaiknya tidak digunakan sebagai pedoman untuk kondisi yang berbeda.

Menurut penulis, penyebaran video lama tanpa verifikasi dapat menciptakan kepanikan yang tidak diperlukan, terlebih ketika menyangkut gunung api yang memiliki catatan sejarah seperti Anak Krakatau.

Abu Vulkanik Menjadi Salah Satu Ancaman Ketika Erupsi Berlangsung

Selain lontaran batu pijar dan lava, abu vulkanik perlu diperhatikan ketika Anak Krakatau mengalami erupsi.

Arah penyebaran abu sangat bergantung pada kecepatan dan arah angin.

Pada letusan tertentu, abu dapat bergerak menuju perairan terbuka. Dalam kondisi angin berbeda, material halus dapat terbawa menuju wilayah yang lebih jauh.

Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan material vulkanik sangat kecil.

Jika konsentrasinya cukup tinggi, abu dapat menyebabkan iritasi pada mata dan saluran pernapasan.

Masker Disarankan Saat Wilayah Terkena Abu

Badan Geologi menyarankan masyarakat yang terkena abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Jika harus keluar rumah, penggunaan masker dapat membantu mengurangi partikel yang terhirup.

Mata juga sebaiknya dilindungi dari paparan abu.

Masyarakat yang menggunakan kendaraan perlu berhati hati karena abu tebal dapat mengurangi jarak pandang.

Permukaan jalan yang tertutup material juga dapat menjadi lebih licin ketika terkena air.

Nelayan dan Wisatawan Perlu Memahami Karakter Selat Sunda

Posisi Anak Krakatau yang berada di tengah perairan membuat aktivitas masyarakat laut menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian.

Nelayan terbiasa beroperasi di Selat Sunda, sementara wisata menuju kawasan sekitar Krakatau juga menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, kondisi gunung harus selalu menjadi pertimbangan sebelum melakukan perjalanan.

Ketika status berada pada Level III, radius 3 kilometer dari pusat aktivitas harus dikosongkan dari kegiatan.

Menjaga jarak membuat risiko terkena material lontaran jauh lebih rendah.

Kondisi Tenang Tidak Berarti Gunung Tidak Aktif

Anak Krakatau dapat terlihat tenang ketika diamati dari jauh.

Tidak adanya kolom abu besar bukan jaminan bahwa proses di bawah permukaan sudah berhenti.

Instrumen seismik dapat mencatat aktivitas meskipun secara visual gunung terlihat biasa.

Kabut dan cuaca juga kerap menghalangi pengamatan langsung.

Karena itu, keputusan mengenai keamanan tidak sebaiknya dibuat hanya berdasarkan foto atau pandangan mata dari pantai.

Data instrumental tetap mempunyai peran utama dalam menentukan kondisi gunung.

Pemantauan Dilakukan dari Sisi Lampung dan Banten

Pengawasan Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan yang berada di sisi berbeda Selat Sunda.

Salah satunya berada di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan.

Pos lainnya berada di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Lokasi tersebut membantu petugas memperoleh pengamatan dari arah berbeda.

Selain pengamatan manusia, kamera CCTV dan berbagai instrumen ditempatkan untuk mencatat perubahan aktivitas gunung.

Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara berkala.

Evaluasi Bisa Mengubah Status Gunung

Status gunung api tidak bersifat permanen.

Jika aktivitas meningkat secara signifikan, tingkat peringatan dapat dinaikkan.

Sebaliknya, apabila data menunjukkan penurunan yang konsisten dalam periode tertentu, status dapat dievaluasi kembali.

Pada evaluasi 7 September 2026, probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih dinilai tinggi.

Ancaman utama yang diperhitungkan meliputi lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat.

Aliran lava juga masih dapat terjadi apabila episode erupsi menerus kembali muncul.

Anak Krakatau Terus Mengalami Proses Pertumbuhan Vulkanik

Sejak muncul ke permukaan laut hampir satu abad lalu, Anak Krakatau terus berubah.

Erupsi menambahkan material baru ke tubuh gunung, sementara erosi laut, longsoran, serta letusan dapat mengurangi atau mengubah bentuknya.

Setelah keruntuhan besar 2018, aktivitas berskala lebih kecil kembali membangun bagian tubuh gunung.

Proses semacam ini dapat berlangsung bertahun tahun.

Setiap seri letusan memberi informasi baru kepada ilmuwan mengenai perubahan sistem vulkanik Anak Krakatau.

Pengamatan jangka panjang diperlukan untuk melihat pola kegempaan, perubahan bentuk tubuh gunung, karakter magma, serta jenis erupsi yang muncul pada setiap periode.

Aktivitas September Menjadi Alasan Pemantauan Tetap Diperketat

Berakhirnya erupsi menerus pada 6 September tidak membuat pengawasan dihentikan.

Tiga erupsi Strombolian tercatat setelah episode panjang tersebut berakhir.

Aktivitas vulkanik masih menunjukkan bahwa sistem di bawah Anak Krakatau belum sepenuhnya stabil.

Masyarakat di kawasan pantai Banten dan Lampung dapat tetap melakukan kegiatan sesuai arahan pemerintah daerah, tetapi harus terus mengikuti informasi resmi.

Sementara itu, kawasan dalam radius 3 kilometer tetap menjadi area terlarang.

Pemantauan terhadap gempa, perubahan tekanan, deformasi, hembusan, kolom abu, serta kemungkinan keluarnya lava terus diperlukan karena karakter Anak Krakatau dapat berubah mengikuti pergerakan magma di bawah permukaan.