Ungkap Peran Polisi Istimewa Surabaya di Perang Kemerdekaan

Rabu, 21 Agustus 2013  23:48

Ungkap Peran Polisi Istimewa Surabaya di Perang Kemerdekaan
Di awal perang kemerdekaan Indonesia, satuan polisi punya peran sangat vital. Sebagai satu-satunya kesatuan yang punya persenjataan lengkap, polisi jadi garda terdepan mempertahankan kemerdekaan. Salah satu yang mengharu biru adalah kisah perjuangan Polisi Istimewa yang jadi cikal bakal kesatuan Brigade  Mobil (Brimob) di Surabaya sebelum perang frontal 10 November  terjadi.
 
BERAKHIRNYA Perang Asia Timur Raya 15 Agustus 1945, setelah Jepang bertekuk lutut, dan diproklamasikan Kemerdekaan Indonesia, Pembela Tanah Air (PETA) dan Heiho – pasukan yang terdiri dari pemuda-pemuda Indonesia, diperbantukan pada pasukan-pasukan Jepang di medan perang – dibubarkan. Mereka dipulangkan ke kampung halamannya masing-masing tanpa senjata sama sekali.
Kepolisian yang empat hari pasca proklamasi mengatakan dirinya sebagai Kepolisian Republik Indonesia. Polisi umum, juga ikut dilucuti oleh Tentara Jepang yang memang ditugasi blok pemenang perang Sekutu, untuk menjaga dan memelihara keamanan di Indonesia agar dapat menginjakkan kakinya di Bumi Indonesia dengan aman.
Namun perintah itu tidak dilakukan Polisi Istimewa yang tersebar di seluruh Indonesia. Kesatuan ini ada pada setiap Keresidenan dan bersenjata lengkap. Di Surabaya, ada dua kompi kesatuan Polisi Istimewa. Satu kesatuan yang dipimpin oleh Moehammad Jasin. Sedangkan yang lainnya untuk Surabaya kota, kesatuan organik yang dipimpin oleh Soetjipto Danoekoesoemo.
Hari itu yang akhirnya menjadi tonggak sejarah harumnya polisi dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang diperingati tiap tahun. Kepala Korps Brimob Polri Irjen Pol M Rum Murkal, menjelaskan Hari Bhayangkara Polri memang jatuh tiap 1 Juli. Itu berkaitan dengan Penetapan Pemerintah Tahun 1946 No. 11/S.D. bahwa Djawatan Kepolisian Negara yang semua bertanggung jawab kepada Kementerian Dalam Negeri dan Jaksa Agung akan langsung bertanggung jawab kepada Perdana Menteri sejak 1 Juli 1946. Namun sebenarnya, jauh sebelumnya yakni ketika M Jasin memaklumatkan dukungan ke NKRI, jadi jejak sejarah panjang polisi di negeri ini. “Karenanya, tiap tahun kami memperingati secara internal di lingkup Polri,” terangnya, Rabu (21/8).
 Tahun ini, jejak itu dikumpulkan melalui napak tilas sejarah dari Sabang ke Marauke dengan start di Monumen Polisi Istimewa di Jalan Polisi Istimewa, Surabaya kemarin. "Dengan napak tilas ini, kami berharap roh pengabdian Polri kepada masyarakat dan negara ini akan menjadi luar biasa, bukan  pengabdian biasa-biasa saja," katanya saat melepas regu beranting yang segera menuju titik berangkat di Sabang (Aceh) hingga ke Merauke (Papua).
Regu beranting yang berjumlah enam orang itu membawa enam bukti sejarah duplikat yakni bendera Merah Putih, panji Tribrata, pataka Korps Brimob, dokumen M Yasin tentang Lintas Sejarah Perjuangan Polri, surat perintah Panglima Besar ABRI Jenderal Soedirman, dan pedang Polisi Istimewa. "Mereka akan menempuh perjalanan sejauh 8.714 kilometer selama 92 hari dengan start dari Surabaya," tuturnya.
Setelah itu, katanya, regu beranting itu akan naik pesawat dari Bandara Juanda Surabaya ke Sabang (Aceh) dan akhirnya menyusuri Sumatera hingga ke Merauke dan nantinya akan finis di markas Korps Brimob Polri Kelapa Dua Jakarta pada 14 November mendatang. "Selama perjalanan, Regu Beranting Napak Tilas Polri itu akan singgah pada sejumlah situs bersejarah dan mengadakan bakti  sosial kepada sejumlah veteran Polri setempat, lalu berjalan lagi dan begitu seterusnya hingga kembali ke markas di Jakarta," ujarnya.
Dalam upacara pelepasan itu, penyerahan keenam bukti sejarah duplikat itu kepada mereka dilakukan oleh Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Ediwan P, Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono, Kepala Korps Brimob Polri Irjen Pol M Rum Murkal, Kepala Staf Garnisun Tetap (Kasgartap) III Surabaya Brigjen TNI Marinir Wayan Mendra, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Ketua  Purnawirawan Polri Jatim Mayjen Pol (Purn) Sumarsono.
“Saya terharu, karena untuk pertama kalinya Polri menunjukkan bukti sejarah bahwa dulu itu nggak dikenal Polri, TNI, pemerintah, dan masyarakat, karena semuanya berjuang secara bahu membahu untuk bangsa. Ke depan, kita perlu bahu membahu untuk membangun bangsa ini tanpa membedakan," kata Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Ediwan P.
Rum Murkal menambahkan, misi napak tilas perjuangan Bhayangkara Polri ini bukanlah untuk mengejar target ataupun memecahkan rekor. Namun, misi ini lebih kepada tujuan sosial supaya sejarah Polri tak putus di tengah generasi. (pay/epe)

TERKINI

SELENGKAPNYA

FOKUS

SELENGKAPNYA
E-PAPER