Ani Yudhoyono Kenal Bunda Putri

Jumat, 06 September 2013  04:26

Ani Yudhoyono Kenal Bunda Putri
Jakarta (BM) – Identitas dua sosok paling misterius, Bunda Putri dan Sengman, yang ada di balik skandal suap pengurusan kuota impor daging sapi, perlahan terungkap. Dua orang yang disebut sebagai pengatur pejabat pengambil kebijakan dan kurir suap di Kementerian Pertanian (Kementan) itu ternyata seorang pengusaha besar yang dikenal Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Belakangan, beredar kabar bahwa perempuan yang sering dipanggil Bunda Putri tersebut diduga istri seorang pejabat tinggi Kementan, Direktur Jenderal Hortikultura, Hasanuddin Ibrahim alias Odeng.

Terungkapnya secuil jati diri Bunda Putri muncul dari pengakuan Menteri Pertanian (Mentan), Suswono. Usai rapat dengan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (5/9), Suswono menyempatkan diri untuk melayani pertanyaan wartawan. Salah satu elite politik Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengakui mengenal Bunda Putri sebagai seorang pengusaha.

“Pengusaha kan dia. Nggak tahu saya persisnya. Saya nggak kenal. Tapi orang memanggilnya Bunda Putri saja," ujar Suswono.
Suswono menceritakan pernah beberapa kali bertemu Bunda Putri. Pertemuan pertama dengan Bunda Putri terjadi di Kalimantan Barat.

"Pernah bertemu waktu di Kalimantan Barat, ketika mengunjungi pabrik pupuk organik, tahun 2010-an," terangnya di gedung DPR, Kamis (5/9).

Nah, pada pertemuan keduanya, Suswono baru mengetahui jika Bunda Putri juga mengenal Ibu Negara Ani Yudhoyono dan istri pejabat lain. Saat itu, dirinya secara tidak sengaja bertemu kedua kalinya dengan Bunda Putri di sebuah acara PKK yang dipandu Istri Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi. Suswono mengingat, Ibu Negara bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga tutur hadir dalam acara tersebut.

“Waktu itu seingat saya, Presiden juga hadir dalam pencanangan gerakan perempuan untuk pekarangan. Itu acara PKK, Ibu Gamawan tuan rumahnya," ungkapnya.

Namun, saat ditanya lebih jauh soal siapa sebenarnya wanita yang punya rumah di Pondok Indah itu, Suswono diam seribu bahasa. Termasuk saat ditanya, apakah benar Bunda Putri adalah istri salah seorang pejabat Kementan Hasanuddin Ibrahim.
Sambil berjalan ke mobilnya, Suswono hanya kembali mengulang bahwa Bunda Putri pernah hadir dalam acara PKK yang dihadiri Presiden SBY dan Ibu Negara serta para istri pejabat. Yang pasti, sepengetahuan Suswono, perempuan tersebut tidak pernah bermain di kementeriannya. “Yang jelas, dia (Bunda Putri) tidak pernah bermain di Kementerian Pertanian,” demikian pengakuan Suswono.

Kecurigaan semakin menguat saat sosok Bunda Putri ini ditanyakan kepada Dirjen Hortikultura, Hasanuddin Ibrahim alias Odeng. Pejabat teras Kementan yang ikut mendampingi Suswono dalam rapat di Komisi V DPR, kemarin, nampak kelimpungan saat menjawab cecaran pertanyaan wartawan. Hasanudin didesak pertanyaan awak media saat rapat dewan diskors. 
"Dihormati juga dong hak privasi saya. Saya tegaskan, yang pertama, pertanyaan yang dimaksud makhluk Allah namanya bunda, saya tidak mengerti. Yang mana dimaksud kan banyak. Nama bisa sama, siapapun bisa mirip," kata Hasanuddin berkelit dari kejaran wartawan.

Ia pun lalu menjelaskan bahwa banyak orang yang bernama 'Musa' di Indonesia. Karenanya, dia meminta, semua pihak terlebih dahulu memastikan Bunda Putri yang dimaksud, apakah istrinya atau tidak.Anenya, saat ditunjukkan foto Bunda Putri yang beredar di sejumlah media sosial, Hasanuddin masih mengeluarkan pernyataan yang mengelak. "Ini urusan pribadi, saya mau urus pekerjaan. Saya tak mau ditanya soal rumah tangga saya, jelas clear ya. Itu urusan pribadi saya, istri saya Nyonya Hasanuddin," tandasnya.

Diketahui, nama-nama seperti Sengman, Bunda Putri juga sandi sebutan ‘Lurah’ dan  ‘Haji Susu’ mengemuka dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap pengurusan kuota impor daging sapi dan pencucian uang untuk terdakwa Ahmad Fathanah di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (29/8). Nama mereka disebut dalam percakapan melalui telepon antara Ridwan Hakim, Bunda Putri, dan Luthfi Hasan Ishaaq, yang diperdengarkan jaksa di persidangan terdakwa Ahmad Fathanah.

Dalam percakapan hasil sadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tersebut, Ridwan mengungkapkan bahwa Bunda Putri adalah mentor bisnisnya. Dalam rekaman perbincangan pada Januari 2013 itu, Luthfi menyebut Bunda Putri adalah seseorang yang mengondisikan para pengambil keputusan. Awalnya, pembicaraan antara Luthfi dan Ridwan melalui telepon. 
 
"Tadi malam menteri di sini (rumah). Sampai jam 1 pagi katanya. Pernyataannya, kan hari Jumat. Malam Jumatnya dia di sini. Sambil ngomongin rapat," kata Ridwan kepada Luthfi. 
 
"Kalau gitu gini aja, nanti kita coba dua arah. Siapa yang terbaiknya, Widhi-nya yang kita pegang 100 persen, biar satu komando," jawab Luthfi. 
 
Ridwan kemudian menyerahkan teleponnya kepada Bunda Putri untuk berbicara dengan Luthfi. Tidak jelas persoalan perbincangan antara Luthfi dan Bunda Putri. Di tengah-tengah perbincangan, Luthfi menyebut ada seseorang yang menjadi pengambil keputusan. 
 
"Bukan, maksud saya, dia kan decision maker. Bunda kan mengondisikan para decision maker. Kerjaan lebih berat mengondisikan pada decision maker daripada yang pengambil keputusan sendiri, hahaha," ujar Luthfi seperti dalam rekaman tersebut. 
 
Bunda Putri merupakan nama baru yang muncul dalam persidangan kasus ini. Jaksa terus menggali dari Ridwan mengenai Bunda Putri. Menurut Ridwan, Bunda Putri adalah orang yang berbeda dengan Bunda alias Elda Devianne Adiningrat, Komisaris PT Radina Bioadicipta, yang juga mantan Ketua Asosiasi Perbenihan Indonesia.
 
Elda pernah mengatakan, Ridwan dan Fathanah melakukan pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Januari 2013. Elda juga hadir dalam pertemuan itu. Menurut Elda, dalam pertemuan itu, Ridwan menanyakan kesanggupan Dirut PT Indoguna, Maria Elizabeth Liman, yang akan dibantu dalam mengurus penambahan kuota impor daging sapi. 
 
Dalam kasus ini, Ahmad Fathanah bersama Luthfi didakwa menerima pemberian hadiah atau janji dari Juard dan Arya (Direktur PT Indoguna Utama) terkait kepengurusan kuota impor daging sapi untuk perusahaan tersebut sebesar Rp 1,3 miliar. Keduanya juga didakwa tindak pidana pencucian uang.

Nama lain yang mengnudang rasa penasaran banyak pihak yakni, kurir suap yang disebut Sengman. Dalam percakapan yang diperdengarkan jaksa di persidangan, Ridwan menyebutkan jika  Sengman adalah orang yang mengantarkan uang Rp 40 miliar dari Dirut PT Indoguna Utama – perusahaan yang mengajukan tambahan kuota impor daging sapi ke Kementerian Pertanian– ke Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. Ia mengaku, Sengman yang dia kenal adalah utusan Presiden SBY.

Setelah sempat mengelak, beberapa pihak di lingkaran dekat Istana Negara akhirnya mengakui jika Presiden SBY mengenal Sengman sebagai seorang pengusaha. Pengakuan buka-bukaan disampaikan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Djoko Suyanto. Menurut Djoko, orang dimaksud yang dikenal SBY adalah Sengman Tjahja, seorang pengusaha di Palembang, Sumsel.

"Kalau ditanya, apakah Presiden kenal, jawabannya ya. Apakah pernah berjumpa, jawabannya, ya. Pernah menghadiri pesta pernikahannya anaknya, jawabannya ya," kata Menko Polhukan Djoko Suyanto yang didampingi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Sudi Silalahi di Warsawa, Polandia, dikutip dari laman setkab.go.id, Kamis (5/9).  

Djoko mengakui, Sengman adalah seorang pengusaha nasional papan atas yang tinggal di Jakarta. Tapi, pengusaha ini sama sekali tidak ada hubungan khusus dengan kepala negara. Meski Presiden SBY pernah menghadiri pernikahan anaknya, bukan berarti Presiden memiliki hubungan khusus dengan Sengman Tjahja. Djoko mengatakan, hubungan SBY dengan Sengman itu sebatas seorang Presiden dengan pengusaha nasional. “Wajar, seorang Presiden sebagaimana kepala negara sebelumnya, mengenal pengusaha di negerinya,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Mensesneg Sudi Silalahi. Dia menegaskan, Presiden tidak pernah menerima atau bertemu khusus dengan Sengman. Ia menampik, Sengman pernah menjadi staf atau utusan khusus Presiden SBY untuk kegiatan tertentu.
 
"Sebagai Mensesneg, saya mendampingi Presiden SBY hampir 24 jam setiap hari. Jadi saya tahu, tidak pernah ada pertemuan dengan Sengman," jelasnya.

Fathanah Klaim Uang USD 60.000 Milik Luthfi

Dalam sidang lanjutan kasus suap impor daging, Kamis (5/9), terdakwa Ahmad Fathanah membeber uang sebesar USD 60.000 yang dibayarkan sebagai uang muka pembelian mobil FJ Cruiser bukan miliknya. Melainkan, berasal dari eks Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq.

Menurut Fathanah, uang sebesar USD 60.000 tersebut dibawa oleh seseorang bernama Budi yang merupakan kurir dari Luthfi Hasan Ishaaq. "Saya membantah, itu uang bukan punya saya tetapi itu dari kurir Ustaz Luthfi," kata Fathanah dalam sidang di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (5/9).

Fathanah menambahkan bahwa uang sebesar USD 60.000 tersebut tidak seluruhnya diberikan ke Mansyur untuk pembayaran uang muka pembelian mobil FJ Cruiser. Ia mengaku mengambil uang itu untuk pribadinya sebesar USD 2.000.
Pernyataan Fathanah tersebut dibenarkan oleh saksi Mansyur bahwa ada seorang dengan tubuh kecil yang membawa sebuah kantong berwarna kuning. Sebelumnya, Mansyur selaku sales PT William Mobil mengaku diminta datang ke Hotel Le Meredien, Jakarta, oleh Fathanah. Ketika itu, Fathanah mengatakan akan membayar uang muka pembelian mobil FJ Cruiser.

Mansyur mengungkapkan, pada tanggal 3 Januari 2013 ditelepon oleh Fathanah untuk ke Hotel Le Meredien karena yang bersangkutan berniat membayar uang muka FJ Cruiser.

"Pak Fathanah menelepon saya bahwa untuk muka sudah ada. Beliau (Fathanah) membayar Rp 500 juta sekian dan 5.000 dolar Amerika. Sehingga, jumlahnya sekitar Rp 600 juta," ungkap Mansyur. (bs/dt/vns/kc/arw)

TERKINI

SELENGKAPNYA

FOKUS

SELENGKAPNYA
E-PAPER