Berharap Kebenaran, Gugat Rektor Rp 1.000

Selasa, 25 Juni 2013  00:05

Berharap Kebenaran, Gugat Rektor Rp 1.000
PROF FRANCIEN meradang, begitu mengetahui kenyataan secara tiba-tiba dipecat oleh sang rektor  Prof Yogi Sugito.  Bersadarkan Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan pihak rektorat,  SK pemecatan itu diteken Yogi selaku rektor, sepulangnya ditugaskan di Jepang.
Merasa dicurangi, Prof Francien melayangkan gugatan ke PTUN.  Dosen Bahasa Inggris itu menggugat SK pemecatan yang dikeluarkan Prof Yogi. Sebagai bentuk gugatannya, Ia menyertakan biaya materi Rp 1.000.

"Ini karena saya tidak ingin materi, tapi kebenaran saja. Karena itu saya menggugat dengan materi Rp 1.000 saja,” ujarnya.
Menurutnya, gugatan ini bermula dari perintah Rektor UB untuk memilih calon dekan yang akan menggantikan dirinya usai masa jabatannya habis pada Agustus mendatang. Dijadikan sebagai salah satu panitia, ia pun melaksanakan tugasnya sesuai dengan aturan yang berlaku. “Seleksinya sendiri sudah selesai sejak 1 Juni,” tegasnya.

Nah, usai menggelar seleksi bakal dekan, lantas terjaringlah tiga nama yang berkompeten, dan seluruhnya bergelar doktor. Ironisnya, terdapat beberapa pihak yang disebut penggugat, tak setuju dengan tiga calon dekan itu. Kontra pun terjadi hingga berujung pada upaya dugaan mempengaruhi rektorat agar mengeluarkan SK pemecatan.

Singkat cerita, Francien lantas ditugaskan untuk ke Jepang pada 20-25 Mei lalu. Begitu terkejutnya ia, ketika pulang dan bertugas kembali di UB, sudah terpasang poster-poster yang menyebut dirinya tak pantas lagi menjabat sebagai dekan. Bahkan beberapa di antaranya memintanya mundur menjadi dekan.

“Saya diperlakukan seperti pencuri pada 29 Mei. Saya didemo dan digelandang seperti lakukan kesalahan besar,” bebernya.
Sehari usai perlakuan tak menyenangkan yang disertai demo itu, muncullah SK pemecatan terhadap dirinya. Dalam SK disebutkan jika dirinya melakukan kesalahan ketika melakukan seleksi bakal dekan dan menyalahi aturan yang berlaku.

“Masa jabatan saya kan masih habis Agustus nanti. Mendadak saya dipecat begitu saja,” imbuhnya. Melayangkan gugatan akhirnya dipilih wanita 65 tahun itu. Dalam gugatannya, ia menyebut aturan atau undang-undang yang menjadi pemecatannya sebagai materi gugatan. “Gugatan ini sebagai wujud Good Government,” tegasnya.

Sementara itu, pihak Panitera PTUN, Nursyam B Sudahrsono mengatakan jika pihaknya telah menerima gugatan yang dilayangkan Francien. Gugatan itu tercatat dengan nomor 110/G/2013/PTUN.SBY. “Kami akan segera tunjuk majelis hakimnya,” tandas Nursyam. “Enam hari kemudian sudah bisa disidangkan untuk awal gugatannya,” tutupnya. (arn/rum)

TERKINI

SELENGKAPNYA

FOKUS

SELENGKAPNYA
E-PAPER